https://javaprivatetour.com/wp-content/uploads/2024/01/Nasi-Jamblang-A-Local-Recommendation.jpg' First slide Next

Senin, 20 Mei 2024



Surabi, atau juga dikenal sebagai serabi, memiliki akar sejarah yang dalam di Nusantara. Namun, catatan tertulis yang jelas tentang asal usulnya jarang ditemukan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa surabi pertama kali muncul pada zaman Kerajaan Majapahit, sementara yang lain berpendapat bahwa makanan ini sudah ada sejak masa kerajaan-kerajaan kuno di Indonesia.

Di Indonesia terdapat beberapa daerah yang memiliki surabi.

Surabi Solo: Surabi Solo adalah variasi surabi yang berasal dari Solo, Jawa Tengah. Adonan berbahan dasar tepung beras ini digoreng dengan minyak sedikit sehingga menghasilkan tekstur yang renyah di luar dan lembut di dalam. Surabi Solo biasanya disajikan dengan taburan kelapa parut manis di atasnya.

Surabi Bandung: Surabi Bandung berasal dari Kota Bandung, Jawa Barat. Surabi ini biasanya berwarna hijau karena dicampur dengan daun suji atau daun pkamun. Adonan yang telah dicampur dengan santan ini lalu dipanggang atau digoreng. Surabi Bandung biasanya disajikan dengan kuah kental gula merah.
Bagi orang Sunda, mungkin sudah tidak asing lagi dengan karedok. Kuliner khas yang terbuat dari berbagai sayuran mentah dan dicampur bumbu kacang.
Bumbu kacang tanah, garam, terasi, kencur, gula merah, bawang putih, dan daun kemangi yang kemudian dihaluskan dengan menggunakan ulekan dan diberi air. Hasilnya bumbunya kemudian disiram ke berbagai sayur yang sudah disiapkan. Detikers bisa menambahkan cabai sesuai selera untuk memberikan rasa pedas pada karedok.

Lantas, apa bedanya karedok dengan lotek? Hidangan asal Sunda yang sama-sama berbahan dasar sayuran. Bagi detikers yang penasaran, berikut asal-usul karedok, perbedaan dengan lotek, serta resep dan cara membuat karedok.

Asal-usul Karedok
Melansir dari kemdikbud.go.id ceritanya berawal dari sebuah perkampungan yang merupakan wilayah Kerajaan Sumedang Larang. Namun perkampungan tersebut terkena musibah hingga akhirnya penduduk kampung tersebut pindah ke kampung Rancakeong atau Babakan Dodol.

Sumedang pada saat itu dipimpin oleh seorang bupati bernama Pangeran Aria Suria Atmaja. Dirinya memiliki kegemaran menangkap ikan di Leuwi Kiara yang merupakan aliran Sungai Cimanuk yang berdekatan dengan Rancakeong. Pangeran Aria sering beristirahat di Kampung Rancakeong.

Warga setempat mengetahui bahwa seseorang yang beristirahat merupakan seorang bupati sehingga dengan rasa hormat, mereka menyuguhkan hidangan berupa karedok terong. Setelah mencicipi hidangan tersebut, Pangeran merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa.

Setelah selesai dari ngalintar (berkeliaran), Pangeran Aria menceritakan pengalaman menikmati karedok terong kepada para sesepuh Sumedang. Hingga akhirnya para sesepuh penasaran dan ingin mencicipi hidangan tersebut. Bupati mengajak para sesepuh untuk ngalintar di Leuwi Kiara dan beristirahat di Rancakeong.

Sama seperti sebelumnya, warga mengetahui siapa yang sedang beristirahat, dan menjamu kembali bupati dan para sesepuh dengan hidangan karedok. Kenikmatan yang sama dirasakan oleh para sesepuh Sumedang sehingga mulai saat itu Rancakeong berubah nama menjadi Desa Karedok hingga saat ini.

Sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Jatigede. Lokasinya berada di bagian utara wilayah Kecamatan Jatigede. Desa karedok ini memiliki status sebagai pedesaan dengan klasifikasi Desa Swadaya Mula.

Sebelum tahun 2001, Desa Karedok merupakan bagian dari wilayah Kecamatan Tomo. Akan tetapi, semenjak dikeluarkan Surat Keputusan Bupati Sumedang Nomor 61 Tahun 2001, tanggal 24 Februari 2001, Desa karedok berpindah dari cakupan Kecamatan Tomo menjadi wilayah Kecamatan Jatigede.

Desa Karedok memiliki bentuk bentang permukaan tanah berupa hamparan atau dataran. Pemerintahan Desa Karedok dipimpin oleh seorang kuwu atau kepala desa dengan enam rukun warga (RW) dan dua puluh empat rukun tetangga (RT), serta terbagi menjadi dua dusun, yakni Dusun Karedok 1 dan Dusun Karedok 2.
Kupat tahu adalah makanan tradisional Indonesia yang berbahan dasar ketupat, tahu, kol, dan tauge yang telah digoreng, dicampur dengan bumbu kacang dan kecap. Sebagai alternatif, lontong dapat juga digunakan sebagai pengganti ketupat. Ada banyak jenis kupat tahu, tetapi yang terkenal ialah yang berasal dari Singaparna, Surakarta, dan Grabag yang masing-masing memiliki perbedaan pada bumbu dan pelengkap. Pada versi Magelang dan Solo, terdapat irisan kol, bakwan, mi, dan tahu putih, sementara pada versi Singaparna, terdapat tauge yang telah direbus.[1][2]
 - Nasi jamblang merupakan kuliner khas dari Cirebon, Jawa Barat. Jamblang merupakan nama salah satu kecamatan di Kabupaten Cirebon.

Dikutip dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dijelaskan jika nasi jamblang sejatinya tak jauh berbeda dengan nasi pada umumnya. Perbedaan yang mencolok adalah nasi khas Cirebon ini dibungkus dengan daun jati.

Penyajian nasi jamblang ini menggunakan prasmanan. Pengunjung bisa memilih langsung lauknya. Semua warung makan nasi jamblang begitu.Menu yang tersedia, antara lain sambal goreng, tahu sayur, paru-paru, semur hati atau daging, perkedel, sate kentang, telur dadar, telur goreng, telur masak sambal goreng, semur ikan, ikan asin, tahu, dan tempe.

Nasi jamblang sudah ada sejak era kolonial Belanda. Awal mula sejarahnya, Belanda membangun tiga pabrik di kawasan Cirebon. Pabrik gula di wilayah Gempol Palimanan dan Plumbon, serta Pabrik Spirtus di Palimanan.

Berdirinya pabrik-pabrik tersebut banyak menyerap tenaga kerja dari wilayah sekitar dan wilayah lainnya. Para buruh yang rumahnya jauh seperti dari Sindangjaya, Cisaat, Cimara, Cidahu, Cinaru, Bobos, dan Lokong harus berangkat di pagi buta dengan berjalan kaki.

Para buruh tersebut kesulitan mencari makan untuk sarapan karena pada saat itu belum berdiri warung-warung nasi. Masyarakat zaman dulu menganggap menjual nasi merupakan suatu hal yang dilarang atau pamali. Ini dapat dimaklumi karena peredaran uang kala itu masih sedikit.

Karena iba, seorang pengusaha pribumi asal Jamblang, H. Abdul Latief meminta istrinya Tan Piauw Lun atau akrab disapa Nyonya Pulung untuk menyediakan sedekah makanan berupa nasi dan lauk pauk secukupnya. Nasi itu dibungkus daun jati dan diberikan kepada buruh pabrik

Berita pemberian sedekah dari Nyonya Pulung rupanya menyebar dengan cepat. Permintaan sarapan bagi buruh pun semakin bertambah banyak. Para buruh menyadari apa yang mereka makan merupakan sesuatu yang harus dibeli. Untuk mengganti apa yang dimakan, para buruh bersepakat memberikan uang alakadarnya kepada Nyonya Pulung.

Kegiatan itu menjadi cikal bakal usaha warung nasi jamblang Nyonya Pulung. Pada saat itu, lauk pauk nasi jamblang yang diperuntukkan bagi para buruh hanya ada tujuh macam, yakni dendeng laos, kebuk goreng (paru), sambel goreng, tempe goreng, tahu goreng, sayur tahu, dan ikan asin panjelan (cucut).

Saat ini warung Jamblang nyonya Pulung berganti nama menjadi Nasi Jamblang Tulen. Kini bisnis turun temurun ini tetap dikelola dan berdiri dengan kesederhanaan dari generasi ke generasi dan menyebar ke seluruh Kota Kabupaten Cirebon.

Senin, 06 Mei 2024

Della armitha siska

Della adalah seorang remaja yang memiliki kecintaan yang mendalam terhadap masakan dan kuliner khas Jawa Barat. Setiap hari setelah pulang sekolah, Della langsung menuju dapur untuk mencoba resep-resep baru dan menciptakan kreasi-kreasi kuliner yang unik. Dari soto Bandung hingga tahu gejrot, tidak ada yang luput dari perhatiannya. Della bahkan sering membuat vlog kuliner di YouTube untuk membagikan pengetahuannya kepada orang lain. Hobi memasaknya tidak hanya menjadi kegiatan menyenangkan, tetapi juga menjadi cara baginya untuk memperkenalkan kekayaan kuliner daerahnya kepada orang lain.

Cerita panjang seseorang remaja yang bernama Della hobby memasak dan berkuliner makanann, terutama khas kuliner makanan Jawa Barat 
ChatGPT
Della adalah seorang remaja yang tumbuh besar di tengah-tengah kelezatan kuliner Jawa Barat. Sejak kecil, dia sering melihat ibunya dengan penuh antusiasme memasak hidangan-hidangan tradisional yang lezat. Setiap aroma rempah yang menyebar di dapur menjadi sumber inspirasi bagi Della.

Saat Della memasuki usia remaja, dia mulai memasak dengan ibunya. Awalnya, dia hanya membantu mencuci sayuran atau mencampur bumbu, tetapi seiring berjalannya waktu, keterampilannya semakin meningkat. Della mulai bereksperimen dengan resep-resep baru, mencoba menciptakan versi modern dari hidangan-hidangan klasik Jawa Barat.

Hobinya dalam memasak tidak hanya berhenti di rumah. Della aktif dalam berbagai komunitas kuliner di sekolahnya. Dia sering mengadakan acara masak-memasak bersama teman-temannya, di mana mereka saling berbagi resep dan teknik memasak. Selain itu, Della juga terlibat dalam kegiatan sosial di mana dia menggunakan keterampilan memasaknya untuk membantu memasak bagi mereka yang membutuhkan, seperti di panti asuhan atau acara penggalangan dana.

Kecintaannya pada kuliner Jawa Barat membawa Della untuk menjelajahi lebih dalam tentang kekayaan kuliner daerahnya. Dia mengunjungi pasar tradisional, mempelajari bahan-bahan lokal, dan belajar dari para koki dan ibu-ibu di desanya. Dari soto Bandung hingga pepes ikan, tidak ada yang luput dari eksplorasi Della.

Selain memasak, Della juga menyalurkan hobi kulinernya melalui media sosial. Dia aktif membagikan resep, tips memasak, dan pengalamannya dalam menjelajahi dunia kuliner Jawa Barat di akun Instagram dan YouTube-nya. Melalui platform ini, dia berhasil membangun komunitas yang berbagi minat dengannya.

Bagi Della, memasak bukan hanya sekadar hobi, tetapi juga merupakan cara untuk menjaga warisan budaya dan kuliner tradisional tetap hidup. Dia berharap bahwa melalui karyanya, dia dapat memperkenalkan kelezatan kuliner Jawa Barat kepada generasi muda dan orang-orang di seluruh dunia.

BTemplates.com

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts